Penggalauan Dariku, Untukmu
Sesuatu telah berkecamuk di dalam diriku (#eaa). Sesuatu yang berhubungan dengan masalah emosi jiwa dan perasaan. Alhasil membuat otak dan hati suka ga sinkron. Si hati terus galau padahal si otak sudah menunjukkan pemecahan masalah beserta setiap konsekuensinya. Kalau mengatakan isi hati, sebenernya yang paling gw takutin adalah berubahnya hubungan yang telah ada. Jadi temen kaga, tambah deket juga kaga, dan menurut seorang teman yang bijak (terbang deh idungnya dia), yang membuat berubah itu sebenernya adalah diri kita sendiri. Mungkin semuanya tetap berjalan apa adanya, hanya karena kita yang punya perasaan, makanya kita yang sensitif sendiri.
Dulu orangnya gatau, galau. Udah tau pun masih galau. Lalu harus bagaimana? Timbul pertanyaan.
Akhirnya gw sampai pada penggalauan-hubungan-yang-takut-berubah dan karena ga berani ga bisa mencari tau bagaimana perasaan orang itu, jadinya gw memastikan perasaan gw sendiri. Setelah semedi 7 hari 7 malam di bawah air shower kamar mandi dan didukung oleh sikapnya yang ntah-sadar-atau-ga-tapi-tidak-ada-respon, otak dan hati mulai satu pendapat.. (pause, kemudian baca dengan nada yang didramatisasi) : menyuruh gw untuk mikirin skripsi.